Tampilkan postingan dengan label Kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata-kata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

Untitled



Senin, 06 April 2015 14:35  

B
eberapa hari ini, dunia terasa sangat menghimpitku dalam kedua sisinya. Kedua sisi itu menekanku begitu keras hingga aku seakan ingin menjerit. Dunia ini bukan baru lagi buatku, lingkaran yang selalu patuh atas perintah Tuhan untuk tawaf mengelilingi matahari pada orbit yang telah ditetapkan olehNya bermilyar atau mungkin berbilyun tahun yang lalu. Hey, apa kamu tidak bosan???
Lima menit menunggu saja aku sudah merasa sangat bosan, kenapa kamu tidak bosan dan aku selalu bosan?  Kenapa ada orang yang tidak mudah marah dan aku mudah sekali marah? Kenapa ada yang mudah sekali turun berat badannya padahal makan terus, sedangkan aku tidak walaupun sudah jogging, mengurangi makan bahkan minum obat pelangsing? Aneh bukan?
Sepertiya lingkaran setan ini mulai terasa lagi. Seakan siklus hidup yang pernah kamu lalui di masa lalu terulang kembali di masa sekarang. Hidupmu tidak lebih telah ditentukan siklusnya dari awal oleh Tuhan. Bahagia, sedih, menangis, bahagia lagi, sedih lagi, dan akhirnya nangis lagi. Ada orang baru datang untuk menggantikan orang lama yang akan diambil Tuhan. Pernah ga sih ngerasa kayak gitu?
Oh iya, belakangan ini juga aku lagi ngerasa terasing di antara temen-temenku. Rasanya aku ga berguna lagi. Hilang aja mungkin ga bakal dicari lagi. Iya aku tahu kalo aku curhat sama mereka, pasti  mereka bakal ngomong “ENGGA. ITU CUMA PERASAANMU AJA. KAMU HARUSNYA GA BOLEH MIKIR KAYAK GITU. KITA ITU KAN UDAH KAYAK KELUARGA”. Tapi aku ga bakal cerita kok sama mereka, karena ini hanya perasaanku tentang mereka. Mungkin bener dan mungkin ga bener.

Untitled



Senin, 06 April 2015 21:33
H
ey, aku ga tahu apa yang ada dalam pikiranmu saat berada di depanku. Apakah kamu hanya berpura-pura tegar atau memang sesungguhnya tegar. Tapi aku tidak! Aku tetap bertanya apa maksudmu selama ini?
Aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka sebagai seorang teman, tidak lebih. Tapi kamu, seakan ingin membuka lembaran yang telah aku tutup sejak lama. Kamu ingin mengulang setiap  jengkal ingatanku tentang kamu, tentang kita. Kamu telah membukanya lagi sekarang dan itu sangat menyakitiku.
Kemarin, kamu datang sebagai seorang mantan, bukan seorang temanku lagi. Iya, aku jelas merasakannya dari setiap kata-kata dan tingkah lakumu. Kenapa aku tetap diam? Karena aku hanya bisa seperti itu ketika berada di hadapanmu. Aku benar-benar benci itu. Kenapa aku seperti kutu ketika berada di hadapanmu? Apa salahku?? Apa yang harus aku lakukan?
Rasanya aku ingin sekali memelukmu untuk sekali saja, kemudian aku akan melepaskanmu selamanya. Aku sudah tidak peduli lagi apakah kamu tahu atau tidak alasanku meninggalkanmu. Aku benar-benar tidak peduli. Bagiku, kita tidak dapat bersama lagi selamanya.
Aku memang terluka ketika kamu menceritakan bagaimana temanmu-yang tak ingin kuketahui itu. Bagaimana tingkahnya terhadapmu, dan bagaimana kamu memperlakukan dia. Aku tahu dia spesial bagimu. Tapi aku bahagia atas itu, kamu telah menemukan seseorang yang membuatmu bahagia ketika di kampus. Itu membuatmu semakin giat dalam kuliah.
Bahagiakah kamu ketika  melihatku hanya terdiam saat kamu membicarakannya, lakukanlah jika itu benar. Aku hanya minta jangan pernah sebutkan namanya di depanku. Sekalipun jangan, atau aku akan membenci setiap orang yang bernama seperti itu. 

Tetap Begini



Sabtu, 15 juni 2013 00:38

M
ungkin cinta ini memang bukan untukmu. Bukan untuk kita berdua. Aku mengerti dan sangat sadar akan diriku. Aku tertutup, acuh, dan tidak seperti mereka yang kamu inginkan. Aku hanya seperti ini, iya seperti orang orang yang tambah buruk dalam segala sisi. Tidak tambah cantik atau baik. Aku hanya bertambah buruk seperti itik yang buruk rupa. 
Dengan kesadaranku ini, aku mengundurkan diri untuk jadi seseorang yang memang pantas untuk kamu. Seorang wanita yang bisa mengikuti alur hidupmu yang begitu cepat. Hidupku sungguh jauh darimu. Engkau, yang serba baik bukan berarti mau dengan itik yang buruk.
Tidakkah kesadaranku ini membuatmu sakit? Menyia-nyiakanmu dan membuangmu begitu saja. Sungguh yang begitu tersiksa adalah aku sendiri. Mengingat semua ini hanya membuatku ingin mati. Mengakhiri hidup yang bagiku hanya berpihak padamu.
Sejak kepergianmu, hatiku seakan bisu dan tuli secara tiba tiba. Mengerti bahwa kau bukanlah milikku lagi. Yang dulu hanya jadi mainan manisku saja. Mungkin sekarang waktumu untuk pergi. Sadar akan diriku yang selalu engkau puja dulu, tenyata hanya seperti ini. Tidak lebih kan? iya, sejengkalpun tidak ada.
Hayalanmu mungkin sudah berganti dengan bidadari lain. Yang seindah dan sebaik kamu. Kita sekarang bukanlah apa apa. Teman, saudara, atau bahkan mimpi. Dulu, dulu, dulu dan dulu yang tersisa hanya mimpi buta. Mimpi yang tidak akan menemukan pintu keluar kedunia nyata.
Engkau ke barat dan aku ke timur. Engkau ke kanan dan aku ke kiri. Kini tiba saatnya kita jalan masing masing. Engkau dan aku punya jalan sendiri. Inilah saatnya kita lepaskan genggaman erat tangan yang selalu menuntunku.
Lepaskanlah kasih, di depan ada pagar yang akan menghantam kita berdua. Engkau terlalu manis untuk disakiti. Pergilah dan menjauh dariku. Sebentar lagi hati ini akan benar benar mati. Hingga merasakanmu saja tidak bisa.
Pergilah yang jauh, jangan pernah tengok aku lagi. Anggap aku telah mati dan meninggalkanmu. Aku adalah tokoh jahat yang ada di ceritamu. Lupakan aku dan berpalinglah. Kisah kita telah berbalik. Sang bidadarimu berubah menjadi nenek sihir.
Sungguh beratnya menjadi sutradara dalam ceritaku sendiri. Tidakkah cukup hanya untuk menjadi pemain saja Tuhan? Kapan aku akan pensiun dari semua ini? Aku sungguh lelah. Aku harus melihat cintaku pergi. Karena aku tahu cerita dan bagaimana endingnya.
Tidakkah menjadi orang dungu jauh lebih nikmat? Tidak mengerti apa apa. Menjalani ini semua dengan mudah. Membiarkan laju air tanpa harus membendungnya. Hingga arusnya tetap tenang dan damai.
Aku coba bentangkan kedua tanganku menggapai apapun yang ada di dekatku. Aku benar benar ingin bersandar. Sudah cukup Tuhan. Aku terlalu banyak mengeluh dan  merengek. Memintamu untuk menghentikan ini semua. Tapi tetap saja. Begini.